Showing posts with label Idul Adha. Show all posts
Showing posts with label Idul Adha. Show all posts

Wednesday, July 15, 2015

Hukum Malam Takbiran - Takbir Menjelang Idul Fitri

takbir allahu akbar
TANYA: Apa Hukumnya "Malam Takbiran", yaitu Takbir bersama-sama di masjid pada malam menjelang Idul Fitri juga Idul Adha? Apakah ada contohnya (sunah) dari Rasulullah Saw atau para sahabat?

JAWAB:
Takbir adalah kalimah thayibah "Allahu Akbar" (اَللّهُ اَكْبَرُ ) yang artinya "Allah Mahabesar" atau "Allah Mahaagung".


"Malam Takbiran" adalah masalah khilafiyah. Ada beda pendapat di kalangan ulama antara boleh dan tidak boleh.

Malam takbiran merupakan "tradisi" kaum Muslim (khususnya umat Islam Indonesia) dengan niat untuk syi'ar Islam (dakwah).

Namun, An-Nawawi as-Syafi'i dalam Al Majmu 5/48 mengatakan: “Pendapat mayoritas ulama adalah tidak ada takbiran saat malam Ied, takbiran hanya dilakukan saat berangkat menuju tempat shalat Id”.

Contoh dari Nabi Saw, "takbiran" atau mengumandangkan gema takbir dilakukan dalam perjalanan menuju tempat shalat Id, bukan malam hari sebelum hari lebaran.


Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw keluar rumah menuju lapangan, kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5621).
 
Takbir Akhir Ramadhan: Perintah Allah SWT
Yang pasti, mengagungkan Asma Allah (takbir) usai Ramadhan diperintahkan dalam Al-Quran:

"Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ayat ini menjelaskan, ketika orang sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadlan maka disyariatkan untuk mengagungkan Allah SWT dengan bertakbir. 
 
Atas dasar ayat tersebut sebagian ulama membolehkan takbiran di masjid atau mushola yang kita kenal dengan nama "malam takbiran".

Dalam tafsir Al-Jami` Li Ahkamil Quran karya Al-Qurthubi jilid 2 halaman 302 disebutkan bahwa ayat ini telah menjadi dasar masyru`iyah atas ibadah takbir di malam `Id, terutama `Idul Fithri.
Dalam Fiqhul-Islam wa Adillatuh karya Prof. DR. Wahbah Zuhayli ditegaskan: "Jumhur ulama berpendapat: disunnahkan bahkan bertakbir dengan nyaring di mana pun, di rumah, di pasar, di jalan-jalan, di masjid ketika menjelang dilaksanakannya salat id." Wallahu a'lam bish-showabi. (Dari berbagai sumber, http://inilahrisalahislam.blogspot.com).*

Monday, September 15, 2014

Puasa Sunah Bulan Dzulhijjah - Puasa Arofah

puasa sunah bulan haji_puasa arofah
Puasa Sunah bulan Dzulhijjah atau Puasa Sunah Idul Adha adalah salah satu jenis puasa sunah yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama Puasa Arafah.

Umat Islam disunahkan berpuasa sehari sebelum Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah.

Puasa Sunah Bulan Haji tanggal 9 tersebut disebut "Puasa Arofah". Hukum Sunah Puasa Arofah ini berdasarkan hadits Shahih:

“…puasa hari Arafah, saya (Nabi Saw) berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR.  Muslim dan Ahmad).

Dibolehkan juga puasa sunah dari tanggal 1 s.d. 8 Dzulhijjah.

Jadi, kalau semua puasa sunah dilaksanakan, maka puasa sunahnya bulan haji ini dimiulai dari tangal 1 s.d. 9 Dzulhijjah, berdasarkan hadits yang berisi anjuran memperbanyak ibadah di 10 Hari Pertama bulan Dzulhijah atau bulan haji, menjelang Idul Adha.

"Dari Ibni Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah dari hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah)'. Mereka (para sahabat) bertanya, 'Ya Rasulullah SAW, dibandingkan dengan jihad fi sabilillah?' Jawab Rasul, 'Meskipun dibandingkan dengan jihad fi sabililllah..." (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasai, Nailul Authar: 3/312). Wallahu a'lam bish-showabi. (www.inilahrisalahislam.blogspot.com).*

Tags: puasa, puasa sunah, puasa arofah, puasa bulan haji, puasa bulan dzulhijjah, puasa sunah bulan dzulhijjah.

Hikmah Idul Adha: Merekat Ukhuwah dan Rela Berkorban

Hikmah Idul Adha: Merekat Ukhuwah dan Rela Berkorban
IDUL ADHA adalah salah satu hari raya umat Islam, selain Idul Fitri. Dalam Idul Adha, ada ibadah haji dan ibadah kurban sehingga Idul Adha disebut juga "Lebaran Haji" dan "Idul Qurban".

Ibadah haji dan Ibadah Kurban sama-sama mengajarkan dua hal: ukhuwah atau persaudaraan dan sikap rela berkorban demi agama (Islam), juga demi kemanusiaan.

Hikmah Ibadah Haji

Ibadah haji mengajarkan kesiapan mental-fisik untuk menjalani kehidupan dengan tuntunan dan tuntutan Islam. Tauhidullah dan syariat Islam yang ditegakkan dan didakwahkan Nabi Ibrahim a.s., Nabi Muhammad Saw, juga nabi dan rasul lainnya, wajib kita imani, pahami, amalkan, dakwahkan, perjuangkan, dan bela!

Ibadah haji juga mengajarkan kesamaan, kesetaraan, dan persaudaraan umat manusia. Maka, promosikan ukhuwah di kalangan manusia, khususnya sesama kaum Muslim!

Semua manusia sama dalama pandangan Allah. Hanya takwa yang membedakannya. Taka tercermin dalam akhlak karimah atau perangai yang baik. Tidak peduli apa pun pekerjaan dan jabatannya, yang membuat seseorang mulia bukan pekerjaan atau jabatan, tapi ketakwaannya, akhlaknya!

Pakaian ihram jamaah haji mengandung pesan: suatu saat, cepat atau lambat, kita akan hanya berbusana kain kafan nan putih. Hanya amal saleh yang menjadi bekal dan penolong kita di alam akhirat kelak.

Hikmah Ibadah Kurban

Ibadah kurban mengajarkan semangat berkorban apa saja, demi tegaknya syi’ar Islam dan ketaatan kepada perintah Allah Swt. Jiwa, raga, atau diri kita dan harta yang kita miliki, hakikatnya titipan atau amanah dari Allah Swt.

Maka, gunakan tenaga, pemikiran, harta, jabatan, atau apa pun yang kita miliki, demi dakwah Islam dan ibadah kepada Allah Swt.

Harta adalah amanah sekaligus fasilitas ibadah kepada Allah. Harta bukan tujuan, tapi sarana ibadah. Maka, alangkah meruginya orang berharta yang tidak menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Lakukan ibadah harta berupa zakat, infak, dan sedekah. Allah Swt menjamin, harta yang diinfakkan akan berkah dan tidak akan berkurang, justru bertambah dengan keberkahan.


Selain itu, penyembelihan hewan kurban mengandung pesan agar kita "menyembelih" pula sifat-sifat hewaniyah (kebinatangan) --perangai buruk laksana hewan seperti rakus, angkuh, pelit, "cuek", tak tahu malu-- dalam diri kita. Ia pun mengajarkan semangat "share and care", berbagi dan peduli, terhadap sesama.

Semoga Idul Adha atau Idul Kurban senantiasa meningkatkan persaudaraan umat Islam dan semangat rela berkorban demi tegaknya agama Allah SWT (Islam). Amin! Wallahu a’lam bish-shawabi.*